Oleh Armansyah
Allah menjadikan kita pada hakekatnya berfungsi sebagai khalifah-Nya diatas dunia ini, tugas kekhalifahan inilah yang apabila dijalankan dengan semestinya dilandasi oleh petunjuk-petunjuk yang Dia sampaikan dalam bentuk wahyu tekstual maupun pemahaman kita terhadap ayat-ayat universal-Nya maka akan menjadi ibadah buat kita.
Sistematika kehidupan kita ini dimulai dari setetes mani yang bercampur untuk kemudian seiring dengan sunnatullah atau hukum alamnya terus mengalami perkembangan tahap demi tahap sehingga menjadi sosok manusia sempurna, dan itupun baru pada tahapan bayi kecil tak berdaya, kembali kita tunduk pada kaidah sunnatullah yang berproses sampai menjadi dewasa dan tua, demikian seterusnya.
Ini hendaknya menjadi bagian dari pembelajaran atas kedewasaan pola pikir dan pola pemahaman
kita terhadap segala sesuatunya, jika awalnya kita bertindak hanya
karena ikut-ikutan, maka mulailah kita belajar kenapa kita melakukan
sesuatu atau kenapa kita harus mempercayai sesuatu itu sebagai sebuah
kebenaran, demikian pula misalnya dalam hal ibadah, jika sebelumnya
kita beribadah hanya karena mengharap surga atau takut karena neraka,
maka belajarlah untuk mulai menyikapi fenomena surga dan neraka
sebagai motivator kita kepada tingkat ibadah yang lebih tinggi lagi
yaitu tingkat ibadah yang hanya berharap ridho-Nya Allah. Dengan
demikian maka tingkat keikhlasan kita beribadahpun secara
berangsur-angsur tumbuh dengan sendirinya, karena yang ada dipikiran
kita, ibadah itu untuk menyenangkan Allah, membuat Allah tersenyum
pada kita (ini istilah saya) dan bukan untuk menyenangkan diri kita
(egoistik sebab mengharap kenikmatan surgawi). Lalu bagaimana bila
kita masih mengharap pahala dalam beribadah ? salahkah ? Salah atau
tidak akhirnya kembali kepada seberapa jauh good-will kita
melakukannya, tidak ada yang perlu dipermasalahkan dengan surga dan
nerakanya, tapi mulailah kita belajar untuk mencapai maqam lebih
tinggi dari sekedar itu. Anggaplah ibadah karena mengharap pahala
tertentu itu adalah ibadahnya anak kecil, dan karena kita sudah tidak
lagi kecil, maka kitapun harus meng-update sasaran ibadah kita, sebab
demikianlah yang seharusnya seperti yang tercantum dalam surah 6 ayat
162. Katakanlah: "Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan
matiku hanyalah untuk Allah, Robb semesta alam -Qs. al-An'am 6:162
Salamun 'ala manittaba al Huda
ARMANSYAH
Rabu, 28 Oktober 2009
Selasa, 27 Oktober 2009
Lembutkan Hatimu Dengan Mengingat Mati
Saudaraku yang mengharap ridho
Allah Subhanahu wa Ta'ala, Sesungguhnya kehidupan dunia ini adalah
sebuah perjalanan panjang menuju negeri keabadian. Semoga kita
digolongkan ke dalam orang-orang yang sadar dan mengerti harus
bagaimana menjalani hidup ini agar terhindar dari kehidupan yang
sia-sia dan tanpa makna. Perjalanan ke sebuah negeri yang tiada
akhirnya. Ingatlah wahai saudaraku perbekalan yang terbaik adalah
ketakwaan kita (watazawwadu fainna khoirozzaadittaqwa) QS. 2:198.
Yakni dengan amal shaleh yang ikhlas dan mutaaba'ah (sesuai sunnah
Rasulullah u) yang menyertaimu ketika meninggalkan dunia ini untuk
menghadap Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam kematian yang pasti.
"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati...." (QS. Al-Imran :185)
Memang wahai saudaraku. Perjalanan ini adalah menuju akhirat. Suatu
perjalanan yang kita mohon kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala agar
berakhir pada kenikmatan surga. Bukan neraka. Karena keagungan
perjalanan menuju hari akhir inilah Rasulullah bersabda: "Seandainya
kalian mengetahui apa yang kuketahui, niscaya kalian akan sedikit
tertawa dan banyak menangis." (Mutaffaqun 'alaih) maksudnya, jika kita
mengetahui hakekat ajal yang akan menjemput kita dan kedahsyatan alam
kubur, kegelapan hari kiamat dan segala kesedihannya, shirot (titian)
dan segala rintangannya, surga dengan segala kenikmatannya, niscaya
akan memberikan motivasi kepada kita untuk mengadakan perubahan.
Berubah dari kefasikan dan kekafiran menjadi keimanan, dari
kemunafikan menjadi istiqamah, dari keraguan menjadi keyakinan, dari
kesombongan menjadi ketawadhu'an, dari rakus menjadi rasa syukur dan
sederhana, dari pemarah dan pendendam menjadi kasih sayang dan
memaafkan, dari kelicikan dan kesewenangan menjadi kejujuran dan
keadilan, dari kedustaan menjadi kebenaran. Jadi, perubahan diri dari
sifat dan watak syaithoni dan hewani, menjadi insan Islami harus
segera di mulai. Akan tetapi kita sering lupa atau berpura-pura lupa
dengan perjalanan panjang tersebut, bahkan malah memilih dunia dengan
segala perangkatnya, kemewahan, kecantikan, kekayaan, kedudukan yang
semua nilainya disisi Allah S.W.T, tidak lebih dari sehelai sayap
nyamuk! Wahai yang tertipu oleh dunia.....! Wahai yang sedang
berpaling dari Allah S.W.T...! Wahai yang sedang lengah dari ketaatan
kepada Rabb-nya...! Wahai yang nafsunya selalu menolak nasehat!! Wahai
yang selalu berangan-angan panjang!!! Tidakkah engkau mengetahui bahwa
kamu akan segera meninggalkan duniamu dan duniamu pula akan
meninggalkanmu? Mana rumahmu yang megah? Mana pakaianmu yang indah?
Mana aroma wewangianmu? Mana para pembantu dan familimu? Mana wajahmu
yang cantik dan tampan? Mana kulitmu yang halus? Mana....?! Mana....?!
Saat itu ulat dan cacing mengoyak-ngoyak dan mencerai-beraikan seluruh
tubuhmu ....?! Bersegeralah bersimpuh di hadapan Rabbul Jalil, Allah
S.W.T. Lepaskan selimut kesombongan yang menghalangi dari rahmat dan
maghfirah-Nya. Kuberikan khabar gembira bagi yang berdosa, lalai dan
berlebih- lebihan, agar segera berhenti dari perbuatan kemaksiatannya
itu. Saudaraku yang tercinta, siapakah diantara kita yang tak berdosa,
siapa diantara kita yang tidak bersalah kepada Tuhannya? Sama sekali
tidak ada, seharipun kita tidak bisa seperti malaikat yang selalu taat
dan tidak berbuat maksiat sedikitpun. Datangilah masjid, majlis-majlis
ilmu dan beribadahlah di dalamnya, tegakkanlah shalat lima waktu,
puasalah di bulan Ramadhan, tunaikan haji jika engkau telah mampu,
zakatilah harta dan jiwamu bimbinglah anak-anakmu dengan Al-Islam,
jauhkan dirimu dan keluargamu dari tontonan/bacaan/majalah/tabloid
yang melalaikan dirimu untuk mengingat-Nya.. Insyafilah semua
dosa-dosa, serta ingatlah .... Pintu taubat masih terbuka lebar
untukmu, rahmat dan maghfirah Allah S.W.T sangatlah luas, lebih luas
dari lautan dosa.
Allah Subhanahu wa Ta'ala, Sesungguhnya kehidupan dunia ini adalah
sebuah perjalanan panjang menuju negeri keabadian. Semoga kita
digolongkan ke dalam orang-orang yang sadar dan mengerti harus
bagaimana menjalani hidup ini agar terhindar dari kehidupan yang
sia-sia dan tanpa makna. Perjalanan ke sebuah negeri yang tiada
akhirnya. Ingatlah wahai saudaraku perbekalan yang terbaik adalah
ketakwaan kita (watazawwadu fainna khoirozzaadittaqwa) QS. 2:198.
Yakni dengan amal shaleh yang ikhlas dan mutaaba'ah (sesuai sunnah
Rasulullah u) yang menyertaimu ketika meninggalkan dunia ini untuk
menghadap Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam kematian yang pasti.
"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati...." (QS. Al-Imran :185)
Memang wahai saudaraku. Perjalanan ini adalah menuju akhirat. Suatu
perjalanan yang kita mohon kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala agar
berakhir pada kenikmatan surga. Bukan neraka. Karena keagungan
perjalanan menuju hari akhir inilah Rasulullah bersabda: "Seandainya
kalian mengetahui apa yang kuketahui, niscaya kalian akan sedikit
tertawa dan banyak menangis." (Mutaffaqun 'alaih) maksudnya, jika kita
mengetahui hakekat ajal yang akan menjemput kita dan kedahsyatan alam
kubur, kegelapan hari kiamat dan segala kesedihannya, shirot (titian)
dan segala rintangannya, surga dengan segala kenikmatannya, niscaya
akan memberikan motivasi kepada kita untuk mengadakan perubahan.
Berubah dari kefasikan dan kekafiran menjadi keimanan, dari
kemunafikan menjadi istiqamah, dari keraguan menjadi keyakinan, dari
kesombongan menjadi ketawadhu'an, dari rakus menjadi rasa syukur dan
sederhana, dari pemarah dan pendendam menjadi kasih sayang dan
memaafkan, dari kelicikan dan kesewenangan menjadi kejujuran dan
keadilan, dari kedustaan menjadi kebenaran. Jadi, perubahan diri dari
sifat dan watak syaithoni dan hewani, menjadi insan Islami harus
segera di mulai. Akan tetapi kita sering lupa atau berpura-pura lupa
dengan perjalanan panjang tersebut, bahkan malah memilih dunia dengan
segala perangkatnya, kemewahan, kecantikan, kekayaan, kedudukan yang
semua nilainya disisi Allah S.W.T, tidak lebih dari sehelai sayap
nyamuk! Wahai yang tertipu oleh dunia.....! Wahai yang sedang
berpaling dari Allah S.W.T...! Wahai yang sedang lengah dari ketaatan
kepada Rabb-nya...! Wahai yang nafsunya selalu menolak nasehat!! Wahai
yang selalu berangan-angan panjang!!! Tidakkah engkau mengetahui bahwa
kamu akan segera meninggalkan duniamu dan duniamu pula akan
meninggalkanmu? Mana rumahmu yang megah? Mana pakaianmu yang indah?
Mana aroma wewangianmu? Mana para pembantu dan familimu? Mana wajahmu
yang cantik dan tampan? Mana kulitmu yang halus? Mana....?! Mana....?!
Saat itu ulat dan cacing mengoyak-ngoyak dan mencerai-beraikan seluruh
tubuhmu ....?! Bersegeralah bersimpuh di hadapan Rabbul Jalil, Allah
S.W.T. Lepaskan selimut kesombongan yang menghalangi dari rahmat dan
maghfirah-Nya. Kuberikan khabar gembira bagi yang berdosa, lalai dan
berlebih- lebihan, agar segera berhenti dari perbuatan kemaksiatannya
itu. Saudaraku yang tercinta, siapakah diantara kita yang tak berdosa,
siapa diantara kita yang tidak bersalah kepada Tuhannya? Sama sekali
tidak ada, seharipun kita tidak bisa seperti malaikat yang selalu taat
dan tidak berbuat maksiat sedikitpun. Datangilah masjid, majlis-majlis
ilmu dan beribadahlah di dalamnya, tegakkanlah shalat lima waktu,
puasalah di bulan Ramadhan, tunaikan haji jika engkau telah mampu,
zakatilah harta dan jiwamu bimbinglah anak-anakmu dengan Al-Islam,
jauhkan dirimu dan keluargamu dari tontonan/bacaan/majalah/tabloid
yang melalaikan dirimu untuk mengingat-Nya.. Insyafilah semua
dosa-dosa, serta ingatlah .... Pintu taubat masih terbuka lebar
untukmu, rahmat dan maghfirah Allah S.W.T sangatlah luas, lebih luas
dari lautan dosa.
MEMBACA
Membaca merupakan suatu kewajiban bagi seorang Muslim untuk
mendapatkan ilmu serta penambahan pengetahuan (khasanan berpikir).
Memang tidak semua bacaan bernilai baik dan berbobot. Tetapi tidak
pula dengan begitu maka dari yang tidak baik tadi menjadi haram untuk
dibaca. Sebab dengan mengenal dan memahami ketidak baikan, kita bisa
terhindar darinya.
Adapun masalah novel fiksi, mungkin jika kita
kembalikan ini pada hukum aslinya, maka sifatnya boleh, selama itu
tidak membuat kita menjadi lupa diri dan meninggalkan syariat yang
telah ditentukan menurut ajaran Islam (misal jadi lupa mengerjakan
sholat, menjadi terangsang syahwatnya dan sebagainya). Hiburan
sendiri didalam Islam tidak dilarang, bahkan pernah dalam suatu
perjalanan (sesuai riwayat dari Imam Muslim), Nabi SAW meminta
sahabatnya untuk bersyair (bernyanyi). Tentang angan-angan yang
kosong, sesungguhnya peradaban kita sekarang ini jika mau jujur, bisa
maju justru dimulai dari angan-angan kosong. Misal, dulu orang
berangan-angan bisa terbang, padahal mustahil. Tetapi dari sana orang
lalu menciptakan pesawat bahkan hingga bisa sampai kebulan. Dulu
orang juga berangan-angan bisa melakukan komunikasi tanpa hambatan
dimana saja dan bisa saling berinteraksi dua arah (face-to face), lalu
orang berusaha menciptakan cara mewujudkannya sehingga lahirlah
handphone dan teknologi 3G-nya. Tidak seluruh angan-angan kosong itu
sia-sia, tetapi tidak semua juga bisa bermanfaat. Syirik atau tidak,
ini masalah konsepsi yang lalu timbul dari hasil membaca atau
berangan-angan. Apa yang kemudian membuat kita berlaku syirik dari
bacaan tersebut ? Saya bukan penggemar Harry Potter, tetapi saya juga
penggemar film fiksi ilmiah seperti StarTrek the series, Superman atau
sejenisnya. Dulu saya memang sempat menggandrungi buku silat Wiro
Sableng dan karya-karya koo ping hoo seperti Pendekar Pulau Es,
Seruling Sakti atau Pendekar Rajawali, tetapi hobbi itu sekarang sudah
lama saya tinggalkan karena lebih tertarik mengkaji ilmu-ilmu
ke-Islaman yang diparalelkan dengan sains. Tetapi tidak bisa saya
pungkiri bila kebiasaan membaca saya, justru dimulai salah satunya
oleh buku-buku karya Bastian Tito itu.
Salamun 'ala manittaba al Huda.
sumber:
http://rekonstruksisejarahisaalmasih.wordpress.com
http://jejaknabipalsu.wordpress.com/
mendapatkan ilmu serta penambahan pengetahuan (khasanan berpikir).
Memang tidak semua bacaan bernilai baik dan berbobot. Tetapi tidak
pula dengan begitu maka dari yang tidak baik tadi menjadi haram untuk
dibaca. Sebab dengan mengenal dan memahami ketidak baikan, kita bisa
terhindar darinya.
Adapun masalah novel fiksi, mungkin jika kita
kembalikan ini pada hukum aslinya, maka sifatnya boleh, selama itu
tidak membuat kita menjadi lupa diri dan meninggalkan syariat yang
telah ditentukan menurut ajaran Islam (misal jadi lupa mengerjakan
sholat, menjadi terangsang syahwatnya dan sebagainya). Hiburan
sendiri didalam Islam tidak dilarang, bahkan pernah dalam suatu
perjalanan (sesuai riwayat dari Imam Muslim), Nabi SAW meminta
sahabatnya untuk bersyair (bernyanyi). Tentang angan-angan yang
kosong, sesungguhnya peradaban kita sekarang ini jika mau jujur, bisa
maju justru dimulai dari angan-angan kosong. Misal, dulu orang
berangan-angan bisa terbang, padahal mustahil. Tetapi dari sana orang
lalu menciptakan pesawat bahkan hingga bisa sampai kebulan. Dulu
orang juga berangan-angan bisa melakukan komunikasi tanpa hambatan
dimana saja dan bisa saling berinteraksi dua arah (face-to face), lalu
orang berusaha menciptakan cara mewujudkannya sehingga lahirlah
handphone dan teknologi 3G-nya. Tidak seluruh angan-angan kosong itu
sia-sia, tetapi tidak semua juga bisa bermanfaat. Syirik atau tidak,
ini masalah konsepsi yang lalu timbul dari hasil membaca atau
berangan-angan. Apa yang kemudian membuat kita berlaku syirik dari
bacaan tersebut ? Saya bukan penggemar Harry Potter, tetapi saya juga
penggemar film fiksi ilmiah seperti StarTrek the series, Superman atau
sejenisnya. Dulu saya memang sempat menggandrungi buku silat Wiro
Sableng dan karya-karya koo ping hoo seperti Pendekar Pulau Es,
Seruling Sakti atau Pendekar Rajawali, tetapi hobbi itu sekarang sudah
lama saya tinggalkan karena lebih tertarik mengkaji ilmu-ilmu
ke-Islaman yang diparalelkan dengan sains. Tetapi tidak bisa saya
pungkiri bila kebiasaan membaca saya, justru dimulai salah satunya
oleh buku-buku karya Bastian Tito itu.
Salamun 'ala manittaba al Huda.
sumber:
http://rekonstruksisejarahisaalmasih.wordpress.com
http://jejaknabipalsu.wordpress.com/
Senin, 26 Oktober 2009
ALASAN DAN JAWABAN KENAPA WANITA ENGGAN BERHIJAB/KERUDUNG
KE-1 : MENAHAN GEJOLAK SEKSUAL
ALASAN : Kalo pake hijab, nanti kecantikannya ketutup donk, terus laki- laki yang ingin melihat wajah asli kita, akan menahan nafsunya, kalo terus ditahan nafsunya itu bisa meledak dan ia melampiaskannya dengan melakukan pelecehan! Nah, pemecahannya khan, ya kita harus buka hijab, bener gak ?
JAWAB: Seandainya jalan pemecahan itu benar, tentu Amerika dan negara- negara barat akan menjadi negara yang paling kecil kasus perkosaan dan pelecehan terhadap wanita di dunia. Namun pada kenyataannya tidak demikian, bahkan menurut buku "Crime in USA" terbitan FBI, dikatakan bahwa setiap enam menit sekali terjadi kasus pemerkosaan disana. Ihhh seremm…
Jadi, Kepada orang yang masih mempertahankan dan meyakini kebenaran alasan tersebut, kita bisa mencari jawaban atas kesalahan mereka melalui 3 hal: Pertama, berbagai data statistik telah mendustakan cara pemecahan yang mereka tawarkan; Kedua, hasrat seksual terdapat pada masing-masing pihak, pria dan wanita; Ketiga, yang membangkitkan nafsu seksual laki-laki adalah tatkala ia melihat kecantikan wanita, baik wajah, atau anggota tubuh lain yang mengundang syahwat. Jadi itu bukan alas an lagi, OK
KE-2 : BELUM MANTAP DENGAN HATI
ALASAN : Khan berhijab itu harus dengan hati bicaranya, Ya, kalo misalnya kata hati saya belum mantap untuk berhijab, gimana? JAWAB: Ukhti yang berdalih dengan alasan ini hendaknya bisa membedakan antara dua hal. Yakni antara perintah Allah dengan perintah manusia. Jika perintah itu datangnya dari manusia, maka bisa salah dan bisa benar. Adapun jika perintah itu dari Allah, maka tidak ada alasan bagi manusia untuk mengatakan "saya belum mantap". Bila ia masih mengatakan hal itu dengan penuh keyakinan bisa saja dikatakan bahwa
keislamannnya juga belum mantap dan itu melanggar ajaran Allah, padahal ia mengetahui perintah tersebut dari Allah, maka hal tersebut bisa menyeretnya pada bahaya yang sangat besar, yakni keluar dari agama Allah, sementara dia tidak menyadarinya. Sebab dengan begitu berarti ia tidak percaya dan meragukan kebenaran perintah tersebut. Perintah untuk berhijab/ kerudung (QS: Al-Ahzab: 59)
KE-3 : ALLAH BELUM MEMBERIKU HIDAYAH
TANYA: Sebenarnya aku sich pengen banget pake hijab, tapi kalo Allah belum memberiku hidayah. Aku mesti gimana?
JAWAB: Ukhti yang berdalih seperti ini telah terperosok dalam kekeliruan yang nyata. Kami ingin bertanya: "Bagaimana kamu tahu bahwa Allah belum memberimu hidayah?" Jika jawabannya, "Aku tahu", maka ada satu dari dua kemungkinan: Pertama, dia mengetahuinya dari ilmu ghaib, sehingga ia tahu apa yang ada di dalam kitab yang tersembunyi (Lauhul Mahfuzh). Dia pasti mengetahui pula bahwa dirinya termasuk orang-orang yang celaka dan bakal masuk Neraka. Kedua, ada makhluk lain yang mengabarkan tentang nasib dirinya, bahwa dia tidak termasuk wanita yang mendapatkan hidayah. Mungkin bisa jadi yang memberitahu itu malaikat, jin atau pun manusia. Namun, ketika jawaban tadi tidak ada pada dirinya, bagaimana dia tahu Allah belum memberi hidayah? Hidayah itu datangnya dari Allah, namun kita wajib
berusaha untuk mendapatkannya. Tanpa ada usaha tidak mungkin ada hasil. Oleh karena itu, kalo masih beralasan seperti ini, itu tidak masuk akal. Berusahalah untuk mendapatkan hidayah itu.
KE-4 : TAKUT TIDAK LAKU NIKAH
ALASAN : Saya takut, kalau saya pake hijab, nanti nggak laku nikah. Cowok khan biasanya suka liat fisiknya dulu, wajahnya,
rambutnya, bodinya, segalanya dech! gimana tuch?
JAWAB: Kecantikan memang merupakan salah satu sebab pokok dalam pernikahan, tetapi ia bukan segalanya sebab. Rosul pernah bersabda, bahwa wanita dinikahi karena 4 hal: kecantikannya, hartanya, keturunan dan agamanya. Tapi yang menjadi prioritas adalah agamanya.
Kaum laki-laki tidak hanya melihat unsur kecantikan semata, tetapi ada hal lain yang menyatu dengan kecantikan yaitu sholeha yang dijadikan pertimbangan dalam memilih isteri. Bisa jadi sikap gadis yang biasa memperlihatkan aurat -yang dimaksudkan untuk menawan hati pria- menjadi bumerang bagi dirinya. Bisa saja tindakan itu malah membuat para pemuda enggan menikahinya. Sebab mungkin para pemuda beranggapan, jika wanita tersebut berani melanggar perintah Allah berhijab, tidak menutup kemungkinan dia akan berani melanggar perintah lain bahkan suami. Karena setan memiliki banyak kiat. Meskipun terkadang kenyataan yang ada tidak selalu sesuai dengan pendapat ini, tetapi memang begitulah keadaan mayoritas pemuda kita di zaman sekarang. Pemuda yang menyunting gadis ber-hijab, namanya akan menjadi harum, meskipun ia sendiri tidak termasuk orang-orang yang dinilai ta'at menjalankan perintah agama.
KE-5 : BELUM DEWASA
ALASAN: Saya belum cukup umur untuk dihijab, hijab khan khusus untuk orang dewasa!
JAWABAN: Kebanyakan berpendapat bahwa kedewasaan seorang gadis dimulai saat berumur 20 tahun. Dan menganggap yang dibawah 20 tahun itu masih anak-anak meskipun ia sudah haid. Padahal itu adalah pendapat yang keliru. Dalam Islam kewajiban seorang wanita untuk menjalankan perintah Allah adalah ketika ia sudah baligh (sudah haid dalam usia 9 tahun, atau sempurna umurnya 15 tahun), maka ketika ia sudah baligh, ia juga bisa dibilang dewasa dan sudah ada kewajibannya untuk berhijab. Jadi tidak ada alasan lagi kalo usia sudah renta tapi masih bilang belum dewasa. Dan apakah kamu bisa menjamin umurmu masih panjang? Coba bayangkan, banyak khan teman-teman kita yang masih belia tapi sudah mendahului kita. Makanya buruan dech kamu pada insyaf.
KE-6 : GAYA, MENGHALANGI BERHIAS DAN BUKAN HIJAB
ALASAN : Ach, banyak ko wanita yang berhijab malah dia lebih parah dalam melanggar ajaran agama, misalnya pacaran dan ia menggunakan hijab hanya untuk gaya, lalu kalo nanti saya berhijab kecantikan saya tidak bisa dilat orang donk!
JAWABAN : Hijab memang bukan segi penilaian baik buruknya seorang wanita, namun dengan berhijab setidaknya orang tidak akan berburuk sangka kepadanya dan cowok juga tidak akan berani menganggunya. Itu sudah jaminan Allah (coba buka QS. Al-Ahzab: 59) jadi sebaiknya mengenakan hijab itu bukan untuk mode atau gaya, tapi semata-mata karena Allah dan kita mesti merasa yakin untuk berhijab karena itu memang sudah menjadi keharusan. Kalo itu sudah dilaksanakan, maka kita akan merasa hidup ini teratur dengan aturan Allah tidak seenaknya. Ia tidak akan berani melanggar perintah Allah termasuk pacaran dan lain- lain.
Lalu, terlebih dulu patut kita pertanyakan: "Untuk siapa engkau pamer aurat? Untuk siapa engkau berhias?" Jika jawabannya: "Aku memamerkan tubuhku dan bersolek agar semua orang mengetahui kecantikan dan kelebihan diriku," maka kembali kita perlu bertanya: "Apakah kamu rela, kecantikanmu itu dinikmati oleh orang yang dekat dan yang jauh darimu?" "Relakah kamu menjadi barang dagangan yang murah, bagi semua orang, baik yang jahat maupun yang terhormat?" "Bagaimana engkau bisa menyelamatkan dirimu dari mata para serigala yang berwujud manusia?". "Maukah, jika dirimu dihargai serendah itu?"
Saudariku, engkau amat mahal dan berharga sekali. Pernahkah terlintas dalam benakmu, bagaimana seorang pembeli membolak-balik barang yang ingin dibelinya? Jika ia tertarik dan berniat membelinya, ia akan meminta kepada sang penjual agar ia diambilkan barang baru sejenis yang masih tersusun di atas rak. Ia ingin agar yang dibelinya adalah barang yang belum pernah tersentuh oleh tangan manusia.
Renungkanlah perumpamaan ini baik-baik. Dari sini, engkau akan tahu betapa berharganya dirimu, yakni jika engkau menyembunyikan apa yang harus engkau sembunyikan sesuai dengan perintah Allah kepadamu.
SAUDARIKU,
ALASAN APALAGI YANG MENGHALANGIMU UNTUK BERHIJAB ???
KALU BUKAN HARI INI, MAU KAPAN LAGI?
DAN APA BESOK KITA MASIH HIDUP DI DUNIA INI ??? RENUNGKANLAH !
Oleh: Hari Guntara
Semoga kita semua mendapat bimbingan dan karunia dari Allah SWT. Amien
ALASAN : Kalo pake hijab, nanti kecantikannya ketutup donk, terus laki- laki yang ingin melihat wajah asli kita, akan menahan nafsunya, kalo terus ditahan nafsunya itu bisa meledak dan ia melampiaskannya dengan melakukan pelecehan! Nah, pemecahannya khan, ya kita harus buka hijab, bener gak ?
JAWAB: Seandainya jalan pemecahan itu benar, tentu Amerika dan negara- negara barat akan menjadi negara yang paling kecil kasus perkosaan dan pelecehan terhadap wanita di dunia. Namun pada kenyataannya tidak demikian, bahkan menurut buku "Crime in USA" terbitan FBI, dikatakan bahwa setiap enam menit sekali terjadi kasus pemerkosaan disana. Ihhh seremm…
Jadi, Kepada orang yang masih mempertahankan dan meyakini kebenaran alasan tersebut, kita bisa mencari jawaban atas kesalahan mereka melalui 3 hal: Pertama, berbagai data statistik telah mendustakan cara pemecahan yang mereka tawarkan; Kedua, hasrat seksual terdapat pada masing-masing pihak, pria dan wanita; Ketiga, yang membangkitkan nafsu seksual laki-laki adalah tatkala ia melihat kecantikan wanita, baik wajah, atau anggota tubuh lain yang mengundang syahwat. Jadi itu bukan alas an lagi, OK
KE-2 : BELUM MANTAP DENGAN HATI
ALASAN : Khan berhijab itu harus dengan hati bicaranya, Ya, kalo misalnya kata hati saya belum mantap untuk berhijab, gimana? JAWAB: Ukhti yang berdalih dengan alasan ini hendaknya bisa membedakan antara dua hal. Yakni antara perintah Allah dengan perintah manusia. Jika perintah itu datangnya dari manusia, maka bisa salah dan bisa benar. Adapun jika perintah itu dari Allah, maka tidak ada alasan bagi manusia untuk mengatakan "saya belum mantap". Bila ia masih mengatakan hal itu dengan penuh keyakinan bisa saja dikatakan bahwa
keislamannnya juga belum mantap dan itu melanggar ajaran Allah, padahal ia mengetahui perintah tersebut dari Allah, maka hal tersebut bisa menyeretnya pada bahaya yang sangat besar, yakni keluar dari agama Allah, sementara dia tidak menyadarinya. Sebab dengan begitu berarti ia tidak percaya dan meragukan kebenaran perintah tersebut. Perintah untuk berhijab/ kerudung (QS: Al-Ahzab: 59)
KE-3 : ALLAH BELUM MEMBERIKU HIDAYAH
TANYA: Sebenarnya aku sich pengen banget pake hijab, tapi kalo Allah belum memberiku hidayah. Aku mesti gimana?
JAWAB: Ukhti yang berdalih seperti ini telah terperosok dalam kekeliruan yang nyata. Kami ingin bertanya: "Bagaimana kamu tahu bahwa Allah belum memberimu hidayah?" Jika jawabannya, "Aku tahu", maka ada satu dari dua kemungkinan: Pertama, dia mengetahuinya dari ilmu ghaib, sehingga ia tahu apa yang ada di dalam kitab yang tersembunyi (Lauhul Mahfuzh). Dia pasti mengetahui pula bahwa dirinya termasuk orang-orang yang celaka dan bakal masuk Neraka. Kedua, ada makhluk lain yang mengabarkan tentang nasib dirinya, bahwa dia tidak termasuk wanita yang mendapatkan hidayah. Mungkin bisa jadi yang memberitahu itu malaikat, jin atau pun manusia. Namun, ketika jawaban tadi tidak ada pada dirinya, bagaimana dia tahu Allah belum memberi hidayah? Hidayah itu datangnya dari Allah, namun kita wajib
berusaha untuk mendapatkannya. Tanpa ada usaha tidak mungkin ada hasil. Oleh karena itu, kalo masih beralasan seperti ini, itu tidak masuk akal. Berusahalah untuk mendapatkan hidayah itu.
KE-4 : TAKUT TIDAK LAKU NIKAH
ALASAN : Saya takut, kalau saya pake hijab, nanti nggak laku nikah. Cowok khan biasanya suka liat fisiknya dulu, wajahnya,
rambutnya, bodinya, segalanya dech! gimana tuch?
JAWAB: Kecantikan memang merupakan salah satu sebab pokok dalam pernikahan, tetapi ia bukan segalanya sebab. Rosul pernah bersabda, bahwa wanita dinikahi karena 4 hal: kecantikannya, hartanya, keturunan dan agamanya. Tapi yang menjadi prioritas adalah agamanya.
Kaum laki-laki tidak hanya melihat unsur kecantikan semata, tetapi ada hal lain yang menyatu dengan kecantikan yaitu sholeha yang dijadikan pertimbangan dalam memilih isteri. Bisa jadi sikap gadis yang biasa memperlihatkan aurat -yang dimaksudkan untuk menawan hati pria- menjadi bumerang bagi dirinya. Bisa saja tindakan itu malah membuat para pemuda enggan menikahinya. Sebab mungkin para pemuda beranggapan, jika wanita tersebut berani melanggar perintah Allah berhijab, tidak menutup kemungkinan dia akan berani melanggar perintah lain bahkan suami. Karena setan memiliki banyak kiat. Meskipun terkadang kenyataan yang ada tidak selalu sesuai dengan pendapat ini, tetapi memang begitulah keadaan mayoritas pemuda kita di zaman sekarang. Pemuda yang menyunting gadis ber-hijab, namanya akan menjadi harum, meskipun ia sendiri tidak termasuk orang-orang yang dinilai ta'at menjalankan perintah agama.
KE-5 : BELUM DEWASA
ALASAN: Saya belum cukup umur untuk dihijab, hijab khan khusus untuk orang dewasa!
JAWABAN: Kebanyakan berpendapat bahwa kedewasaan seorang gadis dimulai saat berumur 20 tahun. Dan menganggap yang dibawah 20 tahun itu masih anak-anak meskipun ia sudah haid. Padahal itu adalah pendapat yang keliru. Dalam Islam kewajiban seorang wanita untuk menjalankan perintah Allah adalah ketika ia sudah baligh (sudah haid dalam usia 9 tahun, atau sempurna umurnya 15 tahun), maka ketika ia sudah baligh, ia juga bisa dibilang dewasa dan sudah ada kewajibannya untuk berhijab. Jadi tidak ada alasan lagi kalo usia sudah renta tapi masih bilang belum dewasa. Dan apakah kamu bisa menjamin umurmu masih panjang? Coba bayangkan, banyak khan teman-teman kita yang masih belia tapi sudah mendahului kita. Makanya buruan dech kamu pada insyaf.
KE-6 : GAYA, MENGHALANGI BERHIAS DAN BUKAN HIJAB
ALASAN : Ach, banyak ko wanita yang berhijab malah dia lebih parah dalam melanggar ajaran agama, misalnya pacaran dan ia menggunakan hijab hanya untuk gaya, lalu kalo nanti saya berhijab kecantikan saya tidak bisa dilat orang donk!
JAWABAN : Hijab memang bukan segi penilaian baik buruknya seorang wanita, namun dengan berhijab setidaknya orang tidak akan berburuk sangka kepadanya dan cowok juga tidak akan berani menganggunya. Itu sudah jaminan Allah (coba buka QS. Al-Ahzab: 59) jadi sebaiknya mengenakan hijab itu bukan untuk mode atau gaya, tapi semata-mata karena Allah dan kita mesti merasa yakin untuk berhijab karena itu memang sudah menjadi keharusan. Kalo itu sudah dilaksanakan, maka kita akan merasa hidup ini teratur dengan aturan Allah tidak seenaknya. Ia tidak akan berani melanggar perintah Allah termasuk pacaran dan lain- lain.
Lalu, terlebih dulu patut kita pertanyakan: "Untuk siapa engkau pamer aurat? Untuk siapa engkau berhias?" Jika jawabannya: "Aku memamerkan tubuhku dan bersolek agar semua orang mengetahui kecantikan dan kelebihan diriku," maka kembali kita perlu bertanya: "Apakah kamu rela, kecantikanmu itu dinikmati oleh orang yang dekat dan yang jauh darimu?" "Relakah kamu menjadi barang dagangan yang murah, bagi semua orang, baik yang jahat maupun yang terhormat?" "Bagaimana engkau bisa menyelamatkan dirimu dari mata para serigala yang berwujud manusia?". "Maukah, jika dirimu dihargai serendah itu?"
Saudariku, engkau amat mahal dan berharga sekali. Pernahkah terlintas dalam benakmu, bagaimana seorang pembeli membolak-balik barang yang ingin dibelinya? Jika ia tertarik dan berniat membelinya, ia akan meminta kepada sang penjual agar ia diambilkan barang baru sejenis yang masih tersusun di atas rak. Ia ingin agar yang dibelinya adalah barang yang belum pernah tersentuh oleh tangan manusia.
Renungkanlah perumpamaan ini baik-baik. Dari sini, engkau akan tahu betapa berharganya dirimu, yakni jika engkau menyembunyikan apa yang harus engkau sembunyikan sesuai dengan perintah Allah kepadamu.
SAUDARIKU,
ALASAN APALAGI YANG MENGHALANGIMU UNTUK BERHIJAB ???
KALU BUKAN HARI INI, MAU KAPAN LAGI?
DAN APA BESOK KITA MASIH HIDUP DI DUNIA INI ??? RENUNGKANLAH !
Oleh: Hari Guntara
Semoga kita semua mendapat bimbingan dan karunia dari Allah SWT. Amien
Langganan:
Komentar (Atom)
