Selasa, 27 Oktober 2009

MEMBACA

Membaca merupakan suatu kewajiban bagi seorang Muslim untuk
mendapatkan ilmu serta penambahan pengetahuan (khasanan berpikir).
Memang tidak semua bacaan bernilai baik dan berbobot. Tetapi tidak
pula dengan begitu maka dari yang tidak baik tadi menjadi haram untuk
dibaca. Sebab dengan mengenal dan memahami ketidak baikan, kita bisa
terhindar darinya.
Adapun masalah novel fiksi, mungkin jika kita
kembalikan ini pada hukum aslinya, maka sifatnya boleh, selama itu
tidak membuat kita menjadi lupa diri dan meninggalkan syariat yang
telah ditentukan menurut ajaran Islam (misal jadi lupa mengerjakan
sholat, menjadi terangsang syahwatnya dan sebagainya). Hiburan
sendiri didalam Islam tidak dilarang, bahkan pernah dalam suatu
perjalanan (sesuai riwayat dari Imam Muslim), Nabi SAW meminta
sahabatnya untuk bersyair (bernyanyi). Tentang angan-angan yang
kosong, sesungguhnya peradaban kita sekarang ini jika mau jujur, bisa
maju justru dimulai dari angan-angan kosong. Misal, dulu orang
berangan-angan bisa terbang, padahal mustahil. Tetapi dari sana orang
lalu menciptakan pesawat bahkan hingga bisa sampai kebulan. Dulu
orang juga berangan-angan bisa melakukan komunikasi tanpa hambatan
dimana saja dan bisa saling berinteraksi dua arah (face-to face), lalu
orang berusaha menciptakan cara mewujudkannya sehingga lahirlah
handphone dan teknologi 3G-nya. Tidak seluruh angan-angan kosong itu
sia-sia, tetapi tidak semua juga bisa bermanfaat. Syirik atau tidak,
ini masalah konsepsi yang lalu timbul dari hasil membaca atau
berangan-angan. Apa yang kemudian membuat kita berlaku syirik dari
bacaan tersebut ? Saya bukan penggemar Harry Potter, tetapi saya juga
penggemar film fiksi ilmiah seperti StarTrek the series, Superman atau
sejenisnya. Dulu saya memang sempat menggandrungi buku silat Wiro
Sableng dan karya-karya koo ping hoo seperti Pendekar Pulau Es,
Seruling Sakti atau Pendekar Rajawali, tetapi hobbi itu sekarang sudah
lama saya tinggalkan karena lebih tertarik mengkaji ilmu-ilmu
ke-Islaman yang diparalelkan dengan sains. Tetapi tidak bisa saya
pungkiri bila kebiasaan membaca saya, justru dimulai salah satunya
oleh buku-buku karya Bastian Tito itu.

Salamun 'ala manittaba al Huda.
sumber:
http://rekonstruksisejarahisaalmasih.wordpress.com
http://jejaknabipalsu.wordpress.com/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar